Tinggalkan Komentar Anda

Terimakasih Sudah Berkunjung Di Kumpulan Makalah Praktis
Mohon Kritik Dan Saran yang Sifatnya Membangun, Untuk Perbaikan Tulisan Kumpulan Makalah Praktis
Cantumkan Link/alamat Web Anda Jika Ingin DiCopas
Berkomentarlah Yang Sopan dan santun
Terimakasih

Minggu, 20 Januari 2013

Sistem Pendidikan Di Belanda


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa  yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya  sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai  tugas mata kuliah Perbandingan Pendidikan dengan judul “Sistem Pendidikan Di Belanda  di Universitas Al-Washliyah (UNIVA) Medan.
Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak dosen mata kuliah Perbandingan Pendidikan yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Demikianlah tugas ini kami susun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Perbandingan Pendidikan.

Medan, 30 Desember 2012

Pemakalah


DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar belakang masalah
  2. Rumusan dan batasan masalah
  3. Tujuan penulisan

BAB II PEMBAHASAN
  1. Sistem Pendidikan Di Belanda
  2. Jenjang Pendidikan Di Belanda
  3. Pinjaman Dana Untuk Peserta Didik
  4. Sistem Pendidikan Belanda Yang Pernah Diterapkan Di Indonesia

BAB III PENUTUP
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
“Pendidikan merupakan indikator kemajuan suatu bangsa. Suatu bangsa yang memiliki system pendidikan yang baik tentunya akan mempunyai sumber daya manusia yang mumpuni untuk membangun negeri”[1]. Ada Negara besar yang terpuruk karena system pendidikannya buruk, namun adapula Negara dengan sumber daya terbatas namun mempunyai system pendidikan yang baik mampu menjadi Negara yang maju baik dari segi ekonomi maupun teknologi.
“Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa”[2]. Adapun beberapa negara yang menerapkan pendidikan yang hampir sama dengan Belanda adalah Jerman dan Swedia.

B.     Rumusan dan Batasan Masalah
Di Belanda, setiap cabang ilmu mendapat perhatian yang sama, atau dalam pengertian, tidak timpang sepertihalnya yang terjadi di Indonesia. Jika di Indonesia seseorang yang memiliki kemampuan khusus dan minat yang tinggi di aritmatika, science dan rumus-rumus mendapat predikat ‘cerdas’, di Belanda, seorang seniman, pencinta budaya, pegiat seni, juga termasuk dalam kategori cerdas.
Adapun batasan masalah dalam penulisan makalah ini, antara lain sebagai berikut:
Ø  Makalah ini membahas tentang system pendidikan di Belanda.
Ø  Makalah ini juga membahas tentang jenjang sekolah yang ada di Belanda.
Ø  Makalah ini juga membahas tentang sumber dana yang didapat peserta didik.

C.    Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
Ø  Untuk mengetahui lebih dalam tentang system pendidikan di belanda.
Ø  Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Perbandingan Pendidikan”.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sistem Pendidikan Di Belanda
Untuk mencapai pendidikan yang baik, Pemerintah Belanda melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan (Menteri Marja van Bijsterveldt) mewajibkan guru-guru yang mengajar di taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan atas supaya berijazah universitas.
Memang tidak dimungkiri, untuk mencapai sistem yang baik diperlukan dana yang sangat besar. Belanda selain memberikan tunjangan bagi bayi sejak lahir dan anak yang tinggal di Belanda, juga memberikan tunjangan pendidikan kepada murid-murid (sekolah khusus, umum, kejuruan) dan mahasiswa.
“Sejak tahun 1815 M, Belanda sudah mempunyai sistem pendidikan yang baik dan berkembang terus. Ijazah pendidikan Belanda sangat dihargai di dunia internasional”[3]. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi siswa atau mahasiswa asing yang belajar di Belanda.
Apalagi, pilihan sekolah di Negeri Kincir Air itu juga banyak. Pelajar dan mahasiswa dapat mengikuti pendidikan dalam bahasa Belanda dan Inggris. Anak-anak usia 2-3 tahun dapat mengikuti taman kanak-kanak (kleuterschool), dan ketika berumur empat tahun harus masuk sekolah dasar (basisschool).
Pada dasarnya, Belanda mengenal wajib belajar untuk anak usia 2-18 tahun. Wajib belajar enam tahun diperkenalkan pada 1900 (untuk 6-12 tahun). Namun undang-undang ini sering mengalami perubahan, sampai 1969 ketika anak-anak usia 6-16 tahun harus mengikuti pendidikan penuh waktu. Penyandang cacat di atas usia 18 tahun juga harus mengikuti wajib belajar.
Tahun ajaran dimulai 1 Agustus-31 Juli. Di sekolah dasar dan sekolah khusus ada libur enam minggu di musim panas, sedangkan di sekolah lanjutan mendapat liburan tujuh minggu. Masa liburan ini dibagi untuk tiga kawasan, guna menghindari kemacetan lalu lintas.
Seorang anak warga negara Belanda atau bukan warga negara Belanda tetapi orang tuanya bekerja dan membayar pajak, juga mempunyai hak tunjangan anak (kinderbijslag). Besarnya tunjangan ? 174 dibayarkan setiap kuartal oleh Siociale Verzekeringsbank (SVB) sampai anak berusia 18 tahun.
Murid yang studi di sekolah umum, agama, dan netral dibiayai pemerintah dengan anggaran yang sama bila memenuhi persyaratan. Tetapi pada dasarnya murid tidak membayar sekolah, meskipun sekolah diperbolehkan menarik sumbangan pendidikan dari orang tua murid.
Sekolah swasta dibiayai yayasan atau sekolah itu sendiri. Sementara sekolah umum dikelola pemerintah daerah. Keluarga kerajaan biasanya mengikuti pendidikan di sekolah umum. Sekolah agama dikelola suatu dewan yang mengelola pembiayaannya. Berdasarkan agama, terdapat Sekolah Katolik, Protestan, Yahudi, dan Muslim, baik di sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi.
Semua sekolah ini, baik sekolah umum, khusus, maupun swasta berada di bawah pengawasan Inspectie van het Onerwijs (Inspeksi Pendidikan). Sekolah dasar dibagi dalam delapan grup. Mereka yang baru masuk dimasukkan dalam grup 2. Grup 1 dan 2 sebelum 1989 disebut taman kanak-kanak.
Pada grup 3, anak-anak mulai diajar membaca, menulis, dan matematika, sedangkan mulai grup 7 anak-anak diajar bahasa Inggris. Tetapi ada juga sekolah yang mengawali bahasa Inggris di grup 4. Pada grup 8 anak-anak harus menempuh tes yang disebut Cito Eindtoets Basisonderwijs (tes akhir pendidikan dasar), sering disingkat menjadi Citotoets.

B.     Jenjang Sekolah Di Belanda
Setamat sekolah dasar, anak dapat melanjutkan ke sekolah lanjutan (voorgezet onderwijs). Berdasarkan hasil Citotoets dan saran kepala sekolah, anak dapat memilih persiapan pendidikan kejuruan menengah (Voorbereid Middelbaar Beroepsonderwijs/VMBO), apakah VMBO HAVO (Hooger Algemeen Voortgezet Onderwijs/Sekolah Lanjutan Atas Umum) atau VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs/Sekolah Persiapan Ilmu Pengetahuan) untuk melanjutkan ke universitas.
Apabila guru atau orang tua ragu-ragu untuk memasukkan anak tersebut maka dapat memilih VMBO/HAVO, HAVO/VWO untuk adaptasi. Masa orientasi/adaptasi VMBO/HAVO diperlukan satu tahun, sedangkan di HAVO/VWO dua tahun. Masa orientasi/adaptasi ini di Belanda dikenal sebagai brugklas (secara harfiah berarti kelas jembatan, yang menghubungkan sekolah dasar dan sekolah lanjutan).
Seorang murid yang menggondol ijazah HAVO dapat melanjutkan ke VWO untuk dua tahun, dan setamat dari sini dapat melanjutkan ke perguruan tinggi atau ke HBO (Hoogere Beroeps Onderwijs/Sekolah Tinggi Kejuruan).
VWO dibagi dua, yaitu atenium (selain kurikulum umum, murid harus belajar salah satu dari dua bahasa: Latin atau Yunani) dan gimnasium (murid wajib belajar dua bahasa tambahan: Yunani dan Latin).
Anak-anak yang kurang berminat dan tidak berhasil di HAVO atau VWO dapat diturunkan ke VMBO, dengan tingkat kurikulum yang lebih rendah. Mereka yang mengikuti pendidikan universitas tapi belum menempuh sekolah lanjutan dapat mengikuti VAVO (Voorgezet Algemeen Volwassenen Onderwijs/Sekolah Lanjutan Atas Umum untuk orang dewasa).
Sejak 2008, pendidikan sekolah lanjutan diwajibkan sampai anak usia 18 tahun. MBO (Middelbaar Beroepsonderwijs/Sekolah Menengah Kejuruan) diikuti lulusan VMBO dan dapat diselesaikan dalam 1-4 tahun. Sesudah MBO, murid dapat melanjutkan ke HBO atau langsung bekerja. Sekolah ini kini disebut Regionaal Opleidingencentrum (ROC/Pusat Pendidikan Regional).
Pendidikan tinggi terdiri dari Hogescholen (HBO) untuk profesional dan universitas (untuk penelitian/universiteiten/Wetenschappelijk Onderwijs). Sejak 2002, pendidikan tinggi di Belanda terbagi dalam tiga bagian, yakni sarjana muda (bachelors), Masters, dan PHD. Ada persyaratan yang diperlukan untuk melanjutkan studi baik di sekolah dasar, sekolah lanjutan, ataupun universitas, yakni harus memiliki ijazah.
Guna menjaga mutu pendidikan ada badan khusus. Berdasarkan peraturan pendidikan 2002, program titel harus diakreditasi Organisasi Akreditasi Belanda dan Flanderen. Terlebih lagi, kalau program itu dibiayai oleh negara.

C.    Pinjaman Dana Untuk Peserta Didik
Untuk melanjutkan studi, seorang pelajar atau mahasiswa dapat meminta pinjaman dana belajar (studie financiering) yang diatur Informatie Beheer (Pengatur Dana Belajar). Tentu saja harus memenuhi persyaratan, yaitu terdaftar pada sekolah atau universitas. Selain itu, harus terdaftar dalam bursa prestasi, yang mewajibkan pinjaman itu dikembalikan sesudah studi selesai dengan angsuran tertentu.
Pada 2010 dan 2011, mahasiswa dapat memperoleh pinjaman 853,16 (dalam mata uang Belanda) tiap bulan, maksimal tiga tahun. Pengembalian disertai bunga 2,39 persen, dengan minimal cicilan 45,41 per bulan selama 15 tahun. Memang Belanda bukanlah Belanda kalau pinjaman itu tanpa bunga. Tetapi bagaimana pun juga, tak ada salahnya kalau Indonesia belajar dari sistem pendidikan di Belanda.

D.    Sistem Pendidikan Belanda Yang Pernah Diterapkan Di Indonesia
Dalam konteks ini, pemakalah mencoba mengulas sistem pendidikan Indonesia pada masa Hindia Belanda yang kurikulumnya mengacu pada system pendidikan Belanda, yang menurut kami dapat kita contoh dan terapkan untuk system pendidikan Indonesia dewasa ini. Banyak intelektual – intelektual Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan lahir dari kalangan cerdik pandai hasil didikan sekolah Indonesia bentukan Hindia Belanda. Sebut saja Agus Salim, Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir, dll. Bahkan Hatta dan Syahir merupakan lulusan dari Universitas di Belanda.
“Pendidikan pada masa itu, walaupun di masa Indonesia belum merdeka namun mampu menciptakan kesadaran moral dan intelektual bagi para pelajarnya”[4]. Dan secara kualitas pun pendidikan setara SMP pada masa itu MULO(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau HBS (Hogere Burger School) yang setara SMA, lulusannya minimal menguasai 3 bahasa asing: Belanda, Inggris dan Prancis. Dapat kita bayangkan betapa luar biasanya lulusan  universitas jika lulusan sekolah menengahnya saja seperti itu.
Apa yang menjadi perbedaan dasar dari system pendidikan dahulu dan sekarang?. Dalam novel Boemi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan kehidupan kaum terpelajar masa Hindia Belanda ada beberapa hal yang membedakan kualitas pendidikan pada masa itu dan sekarang.
Pertama, Sistem Pendidikan yang mengekplorasi kreatifitas. Dengan kreatifitas kita dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan, kreatifitas menuntut kita untuk selalu berfikir untuk memecahkan sesuatu masalah dengan berbagai macam cara, dengan berbagai macam sudut pandang. Dan system pendidikan yang mengeksplorasi kreatifitas inilah yang ada masa Hindia Belanda dahulu dan belum muncul pada masa pendidikan sekarang.
Kedua, Sistem pendidikan yang memerdekakan pikiran, pada masa Hindia Belanda, seperti yang diceritakan Pramoedya dalam novelnya memberikan kebebasan penuh kepada pelajarnya untuk mengemukakan pendapatnya, diskusi ilmiah pada masa itu merupakan kegiatan yang lebih mendominasi dibandingkan dengan kegiatan belajar lainnya.
Ketiga, Sistem Pendidikan dengan budaya iterasi. Karena kemampuan mengekspresikan ide dalam bentuk tulisan adalah sebuah bukti mutlak bangsa berperadaban tinggi. Menulis berbagai hal, menuliskan ide-ide besar, menulis tentang sains, budaya, seni. Sejarah mencatat, semua bangsa besar adalah bangsa yang gemar menulis dan membaca. Dengan ketiga perbedaan yang dijelaskan diatas, kita tidak usah sungkan untuk mengadopsi system pendidikan Negara lain, dalam hal ini Belanda sebagai usaha memperbaiki system pendidikan Indonesia.

BAB III
PENUTUP

Sejak tahun 1815 M, Belanda sudah mempunyai sistem pendidikan yang baik dan berkembang terus. Ijazah pendidikan Belanda sangat dihargai di dunia internasional. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi siswa atau mahasiswa asing yang belajar di Belanda.
Pada dasarnya, Belanda mengenal wajib belajar untuk anak usia 2-18 tahun. Wajib belajar enam tahun diperkenalkan pada 1900 (untuk 6-12 tahun). Namun undang-undang ini sering mengalami perubahan, sampai 1969 ketika anak-anak usia 6-16 tahun harus mengikuti pendidikan penuh waktu. Penyandang cacat di atas usia 18 tahun juga harus mengikuti wajib belajar.
Guna menjaga mutu pendidikan diadakan badan khusus. Berdasarkan peraturan pendidikan 2002, program titel harus diakreditasi Organisasi Akreditasi Belanda dan Flanderen. Terlebih lagi, kalau program itu dibiayai oleh negara.
Sebagai bangsa Indonesia, kita tidak usah sungkan untuk mengadopsi system pendidikan Negara lain. Dalam hal ini, Belanda sebagai usaha memperbaiki sistem pendidikan Indonesia, jika 1 abad lalu ketika Indonesia masih dalam keadaan terjajah system pendidikannya mampu melahirkan intetektual terpelajar yang memerdekakan maka harusnya ketika Indonesia sudah merdeka, Intelektual pelajar yang dihasilkan system pendidikan Indonesia bisa jauh lebih baik dari dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Ø  Djumransah. “Filsafat Pendidikan”. Malang: Bayumedia, 2006.
Ø  Arifin, H.M. “Ilmu Perbandingan Pendidikan”. Jakarta: Golden Terayon Press. Cet I, 2003.
Ø  Nur, Agustiar Syah. “Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara”. Jakarta: Lubuk Agung. 2001.
Ø  Hamalik, Oemar. “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet II. 2008.




[1]               Djumransah. “Filsafat Pendidikan”. Malang: Bayumedia, 2006 Hal 32.
[2]               Arifin, H.M. “Ilmu Perbandingan Pendidikan”. Jakarta: Golden Terayon Press. Cet I,2003. Hal 54.
[3]               Nur, Agustiar Syah. “Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara”. Jakarta: Lubuk Agung. 2001, Hal 45.
[4]           Hamalik, Oemar. “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet II. 2008 Hal 28.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Like Page

Facebook

Mohon Likenya Makalah Lovers

Widget by: